Jejak Dugaan Dana Ilegal di Tapanuli Selatan: Saat Hutan Angkola Selatan Dibantai Demi Emas

Tapsel, Alarmpena.or.id – Deru mesin berat dan semburan air bertekanan tinggi kini lebih mendominasi aliran sungai di Kecamatan Angkola Selatan, Tapanuli Selatan. Di balik hiruk-pikuk itu, aliran dana diduga hasil tambang ilegal mengalir deras mencapai miliaran rupiah, sementara alam dan nyawa manusia dipertaruhkan dalam sunyi.

Menuju lokasi tambang di salah satu dusun (inisialnya kami samarkan atas pertimbangan keamanan sumber) bukanlah perkara mudah. Perahu mesin wajib ditumpangi untuk menyeberangi sungai.

Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambut bukan lagi rimbunnya hutan Angkola, melainkan luka menganga di tubuh bukit. Puluhan alat berat beroperasi tanpa henti, menguras isi perut bumi secara tidak prosedural.

Di tengah debu dan lumpur, Man (bukan nama sebenarnya) menyeka keringatnya. Pria yang sebelumnya hanya hidup dari pekerjaan serabutan di kota , terpaksa memilih jalur berbahaya demi mengais rezeki untuk keluarga. Bersama timnya, ia bertarung nyawa menggunakan mesin air yang disemprotkan langsung ke tebing-tebing tanah.

“Kalau nasib lagi bagus, hasilnya jauh lebih lumayan daripada kerja serabutan di kota. Ada peluang jekpot di sini,” ujarnya sambil tersenyum sumringah.

Senyum itu mungkin wajar bagi mereka yang terdesak ekonomi. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Man sudah pernah mengantongi sekita Rp15 juta dari keringat yang bercampur lumpur.

“Saya yang baru ikut saja sudah dapat segitu. Bayangkan putaran dananya dengan banyaknya pekerja dan sejumlah toke di sini,” tambahnya.

Namun, di balik senyum dan tumpukan rupiah, ada harga mahal yang harus dibayar. Longsor dan rubuhnya pepohonan tua penghias hutan Angkola Selatan kini menjadi tontonan sehari-hari. Bagi para penambang, itu adalah risiko biasa. Bagi alam, itu adalah vonis mati.

Baca Juga  Bupati Tapanuli Selatan Ikuti Dialog Nasional dan Penanaman Pohon Aren di Tapanuli Utara

Siapa dalang di balik kerusakan ini? Informasi yang beredar di lapangan menyebut, para pemilik modal diduga bukanlah orang lokal. Banyak dari mereka disebut berasal dari luar Tapanuli Selatan, termasuk diduga Mandailing Natal hingga Pulau Jawa. Mereka datang, mengeruk kekayaan, lalu menikmati dengan bangga.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: di mana pengawasan pihak berwenang terhadap aktivitas yang diduga merusak lingkungan ini? Aktivitas tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, dan publik kini mempertanyakan apakah ada korelasi antara fenomena ini dengan kerentanan bencana yang belakangan ini melanda Tapanuli Selatan.

Menyadari kompleksitas dan dampak luas dari temuan di lapangan ini, redaksi secara terbuka mengundang pihak Kepolisian Resor Tapanuli Selatan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setempat, serta pihak terkait lainnya untuk memberikan klarifikasi, data, atau langkah konkret atas fenomena yang terjadi di Angkola Selatan ini. Ruang hak jawab dan hak koreksi senantiasa kami buka seluas-luasnya sesuai prinsip jurnalistik yang berimbang dan adil.

Komentar