RSUD Padangsidimpuan Sembuhkan Pasien, Biarkan Gedungnya Sakit Parah

Padangsidimpuan, Alarmpena.or.id – Di balik aktivitas pelayanan kesehatan yang terus berjalan, tubuh gedung RSUD Kota Padangsidimpuan mengalami sakit parah. Tanaman liar menjulang dari celah-celah beton. Lumut menutupi permukaan fasad. Bekas aliran air membentuk pola kusam di dinding eksterior. Dokumentasi visual yang diambil Rabu, 15 April 2026, memperlihatkan kondisi memprihatinkan bangunan rumah sakit pemerintah yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah.

Foto tersebut memperlihatkan vegetasi liar tumbuh subur dari sela-sela struktur beton lantai atas. Akar-akar kecil menjalar di celah dinding, mencari celah untuk berkembang. Noda kehijauan lumut membentang di permukaan yang seharusnya bersih. Bekas rembesan air menggambarkan jejak kebocoran yang terjadi berulang kali. Di balik jendela-jendela kecil, pasien dan tenaga medis beraktivitas di bawah struktur yang secara perlahan dikuasai alam.

Status Badan Layanan Umum Daerah seharusnya memberikan keleluasaan kepada RSUD Kota Padangsidimpuan dalam mengelola anggaran untuk meningkatkan mutu pelayanan, termasuk pemeliharaan fisik gedung. Namun kondisi yang terlihat pada pertengahan April 2026 mengabarkan cerita berbeda. Institusi yang berupaya menyembuhkan tubuh manusia justru membiarkan tubuh bangunannya sakit parah.

Pertumbuhan rumput liar di dinding beton bukan sekadar masalah estetika. Setiap tunas yang menjulang mengindikasikan kebocoran kronis yang dibiarkan bertahun-tahun. Setiap lapisan lumut menandakan kelembaban berkepanjangan yang tak pernah ditangani. Kerusakan struktural berlangsung diam-diam, menggerogoti integritas bangunan tempat pasien berteduh.

Sejumlah elemen kontrol sosial kerap mengkritik kondisi infrastruktur tersebut dan mendesak pemeriksaan penggunaan anggaran pemeliharaan gedung bahkan menyampaikan dugaan praktik mark-up dalam pengelolaan dana perawatan bangunan. Tuntutan-tuntutan tersebut dilayangkan kepada aparat penegak hukum dan inspektorat daerah.

Kritik serupa muncul terkait proyek pembangunan atap yang diduga mengalami kegagalan konstruksi. Atap yang seharusnya melindungi bangunan justru menimbulkan genangan air di lantai atas saat hujan, dengan indikasi spesifikasi material tidak sesuai ketentuan kontrak.

Baca Juga  Catatan Kelam Pemulihan Korban Banjir di P.sidimpuan, Ketika Data Korban "Menyusut" dan Bantuan "Tersesat"

Berbagai pengaduan yang disuarakan kelompok penggiat kontrol sosial tersebut seakan tenggelam tanpa tindak lanjut berarti. Kondisi gedung pada 15 April 2026 menjadi bukti visual yang tak bisa dibantah. Perbaikan substantif tidak terjadi meski tekanan publik telah berkali-kali dilayangkan. Dinding yang membusuk tetap membusuk. Rumput yang tumbuh terus tumbuh.

Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana yang berada dalam struktur organisasi RSUD seharusnya menjadi garda terdepan pemeliharaan preventif.

Namun keberadaan unit tersebut terasa kabur ketika dinding eksterior gedung telah berubah menjadi lahan subur bagi vegetasi liar. Pertanyaan mengenai efektivitas, alokasi sumber daya, dan koordinasi antarunitas mengemuka, namun jawabnya terdiam di balik dinding yang diliputi lumut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUD Kota Padangsidimpuan belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi gedung begitu memprihatinkan.

Aktivitas pelayanan kesehatan terus berjalan di balik dinding yang dikuasai rumput liar—sebuah ironi tentang Kebijakan Pemerintah Kota Padangsidimpuan yang berupaya menyembuhkan tubuh manusia, namun membiarkan tubuh bangunannya sakit parah.

Komentar