Panen Demplot Nila di Batang Angkola Uji Efektivitas Probiotik dalam Program Seribu Kolam Tapsel

Liputan Khusus158 Dilihat

Tapanuli Selatan, Alarmpena.or.id — Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan memanen sebagian hasil budidaya ikan nila dari kolam demplot Program Seribu Kolam di Desa Sitampa Simatoras, Kecamatan Batang Angkola, Rabu (11/2/2026). Program ini merupakan bagian dari bantuan kolam air tenang Tahun Anggaran 2025 yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Sebanyak 10 ribu benih nila ditebar pada Oktober 2025. Separuh benih mendapat perlakuan tambahan probiotik M4, sedangkan sisanya dibudidayakan tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil sementara menunjukkan perbedaan signifikan dalam pertumbuhan ikan.

“Dari segi bobot dan ukuran, memang lebih besar yang menggunakan perlakuan. Pertumbuhannya lebih cepat,” ujar Kepala Dinas Perikanan Tapanuli Selatan, Syaipul AP Nasution, saat panen berlangsung.

Panen awal yang dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Berkah Payapuri menghasilkan 400 kilogram ikan nila. Sebanyak 350 kilogram disalurkan untuk kebutuhan MBG, sementara 50 kilogram lainnya dijual ke masyarakat dengan harga Rp35 ribu per kilogram dalam kondisi siap konsumsi. Pada panen berikutnya, produksi ditargetkan mencapai sekitar 300 kilogram per siklus, dengan potensi produksi satu kolam melebihi 2 ton.

Ketua Pokdakan Berkah Payapuri, Perdiyan Saleh Dalimunthe, mengungkapkan bahwa bantuan berupa 10 ribu benih dan sekitar 1,5 ton pakan dari pemerintah daerah menjadi faktor utama peningkatan produksi. Sepanjang tahun 2025, kelompoknya berhasil mengembangkan 48 kolam baru dari total 52 kolam yang direncanakan.

“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan produksi dan pemasaran,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pembina Pokdakan Berkah Payapuri, Syahrul M. Pasaribu, menyampaikan bahwa kawasan tersebut kini memiliki 51 kolam yang dikelola oleh 23 anggota. Beberapa kolam menerapkan pola budidaya dengan tambahan vitamin dan pengelolaan intensif. Hasilnya, kolam dengan perlakuan khusus rata-rata menghasilkan tiga ekor ikan per kilogram, sedangkan metode konvensional menghasilkan empat hingga lima ekor per kilogram.

Baca Juga  Presiden Prabowo Subianto Rayakan Malam Tahun Baru 2026 Bersama Korban Banjir dan Longsor di Tapanuli Selatan

Meski begitu, Syahrul mengingatkan agar kelompok tidak bergantung pada subsidi pemerintah.

“Kalau sudah ada hasil, harus ditabung. Ke depan harus mandiri,” tegasnya.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menegaskan bahwa Program Seribu Kolam bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan fokus pada penguatan ketahanan pangan dan asupan protein masyarakat. Program ini sebelumnya meraih SDGs Award dan masuk lima besar tingkat nasional sebagai satu-satunya wakil dari Sumatera.

“Penghargaan itu bonus. Yang utama adalah manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Gus Irawan.

Bupati juga mengakui bahwa cuaca ekstrem dan banjir yang melanda 13 kecamatan sempat menghambat pertumbuhan ikan akibat terganggunya sumber air. Sekitar 2.000 hektare sawah mengalami gagal panen. Pemerintah daerah telah melaporkan dampak bencana tersebut ke kementerian terkait dan memasukkannya dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.

Untuk menutup potensi kehilangan produksi pangan, Pemkab mendorong peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas Gamagora yang sedang dalam uji coba dan menghasilkan rata-rata 9,75 ton per hektare, jauh di atas rata-rata daerah yang sebesar 5,5 ton per hektare.

Panen demplot di Batang Angkola menjadi model budidaya berbasis teknologi sederhana yang diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain. Pemerintah daerah menargetkan program ini berkembang sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan lokal di tengah ancaman inflasi pangan.

Komentar