Tapsel, Alarmpena.or.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi, melakukan kunjungan kerja ke lokasi pengungsian Marsada, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Minggu, 4 Januari 2026. Kunjungan ini menegaskan kehadiran negara dalam penanganan dan pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut.
Kedatangan Menteri PPPA disambut langsung oleh Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, bersama Ketua TP PKK Ny. Murni Gus Irawan. Kunjungan yang berlangsung sejak 3 Januari 2026 ini menjadi simbol kepedulian pemerintah pusat terhadap para penyintas yang terdampak bencana.
Di tengah tenda-tenda pengungsian, Menteri PPPA meninjau kondisi para korban dan berdialog langsung dengan ibu-ibu serta anak-anak yang mengalami dampak bencana. Suasana hangat tercipta saat Menteri menyapa anak-anak dengan yel-yel penyemangat.
“Kekuatan!” seru Menteri.
“Lima lima!” jawab anak-anak riuh.
“Mana gigimu?” tanya Menteri kembali.
“Ini gigiku!” jawab mereka sambil tersenyum.
Salam energi yang disampaikan Menteri juga dijawab penuh semangat, “Tapsel Bangkit!”
Di balik keceriaan tersebut, dialog mengungkap berbagai kisah kehilangan, kekhawatiran akan kesehatan anak, dan ketidakpastian masa depan keluarga pengungsi. Pendekatan dialogis ini mencerminkan prinsip pembangunan berbasis manusia, di mana suara penyintas menjadi dasar utama dalam penanganan pascabencana.
Menteri PPPA menegaskan, “Perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak bencana, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial.”
Ia menambahkan, “Penanganan pascabencana harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari perlindungan terhadap risiko kekerasan, pemenuhan hak kesehatan, hingga dukungan psikososial yang berkelanjutan.”
Pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian menjadi fokus utama, mencakup pemeriksaan ibu hamil, pemantauan status gizi balita, penanganan penyakit infeksi pascabencana, serta skrining kesehatan mental bagi para penyintas.
Selain peninjauan lapangan, kunjungan ini juga berfungsi sebagai forum koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Diskusi menyoroti pentingnya edukasi kebencanaan berbasis keluarga, penguatan sistem perlindungan anak di komunitas, dan peningkatan kesiapsiagaan layanan kesehatan dalam menghadapi potensi bencana mendatang.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengurangan risiko bencana yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses pemulihan.
Dari lokasi pengungsian Marsada, pesan kemanusiaan menguat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, melainkan juga memulihkan kehidupan sosial, mental, dan martabat masyarakat dengan empati dan keberpihakan pada kelompok paling rentan.
Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, menyambut baik kunjungan Menteri PPPA dan menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk bersinergi dengan pemerintah pusat dalam mempercepat pemulihan pascabencana.
Ia menyatakan, “Kami akan memastikan perlindungan dan pemenuhan hak perempuan dan anak di Tapanuli Selatan berjalan optimal dan berkelanjutan.”
Kunjungan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Tapsel H. Jafar Syahbuddin Ritonga, Sekretaris Daerah Sofyan Adil, Staf Ahli PKK Tapsel, Ketua DWP Tapsel, para asisten, staf ahli, pimpinan OPD, kepala bagian, serta unsur TNI dan POLRI.








Komentar